Jumat, 02 Oktober 2015

Cerita di Balik Sebuah Syukur


Tuhan....
Terimakasih karena hari ini Kau mesih tetap mengizinkanku untuk bisa bernafas. Terimakasih karena hari ini aku bisa dan masih tetap bisa tersenyum. Kau tahu? Saat Kau menempatkanku pada cobaan hidup yang tak pernah kukira. Saat Kau memberiku sakit yang tak pernah aku duga dan disaat itulah aku divonis tidak dapat sembuh dari penyakitku. Apa yang aku rasakan dulu adalah perasaan dimana aku merasakan rasa sakit yang bertubi-tubi. Aku masih muda, aku masih sekolah dan bahkan aku belum mampu menggapai cita-citaku. Aku tak menyangka. Diusiaku yang masih belia seperti ini aku harus merasakan pahitnya kehidupan. Aku harus merelakan diriku hidup didalam lingkungan yang kurang akan kasih sayang. Aku pun juga harus merelakan diriku terkena kanker yang kapan saja dapat merenggut nyawaku.
                Saat itu aku tak tau harsus berbuat apa. Hatiku terasa seperti tersambar oleh petir di siang bolong. Aku merasa aku tak memiliki kesempatan lagi untuk  bahagia dan melakukan apa yang aku mau. Banyak tekanan dari pihak internal dan juga aku harus selalu menjaga kondisiku agar aku tidak dikalahkan oleh penyakitku. Tak jarang aku meneteskan air mata karena tak kuat menahan beban hidup.
Banyak hal yang harus aku hindari namun ia selalu menghampiriku. Itu semua membuat tubuhku menjadi menjadi lemah. Aku tak seharusnya menyerah seperti ini. Disaat itulah aku berjuang untuk tetap hidup dan mengubah seluruh kepercayaanku. Aku percaya bahwa suatu saat nanti aku bisa sukses dan aku bisa terlepas dari semua jerat ini.
Banyak teman-temanku yang mendukungku, banyak diantara mereka yang membeikan kepeduliannya kepadaku dan banyak diantara mereka memberikan kasih sayangnya kepadaku. Mereka semua memberi semangat untuk aku terus berjuang dan selalu berjuang apa pun keadaanku. mereka pun menyadarkan aku, bahwa aku tak harus berhenti untuk bermimpi.
Walau banyak cobaan menerpa, aku harus tetap berdiri kokoh dan aku harus membuktikan bahwa aku bisa. Aku bisa sukses dan aku bisa sembuh. Selama aku masih bersekolah, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa membuat orang tuaku bangga dengan aku. Aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku kelak akan menjadi lulusan terbaik.
Meskipun aku tinggal dan dibesarkan yang menurutku aku kurang akan kasih sayang, karena dari kecil aku selalu di didik dengan cara yang kasar, aku masih punya rasa peduli terhadap mereka. Bahkan disaat aku sakit pun, aku tak pernah sedikit pun mengeluh dan bercerita pada mereka. Aku tak ingin memberi beban untuk mereka. Aku ingin berjuang sendiri dan berusaha agar aku bisa sembuh.
Aku percaya dengan adanya kekuatan dan keajaiban doa. Tuhan juga tak pernah berhenti untuk selalu mendengarkan permintaan umatnya. Pintaku hanya satu. “Aku hanya ingin sembuh”. Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki orang yang disayang dan bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang yang lebih.
Tak henti-hentinya aku berdoa dan berbagai cara aku lakukan agar aku bisa sembuh. Aku berusaha mencari uang sendiri untuk membeli obat. Berbagai ramuan juga aku cicipi untuk kesembuhanku. Saat itu aku tak tahu, apakah ada laki-laki yang mencintaiku apa adanya dengan keadaanku seperti ini. Aku tak tau, apakah cinta sejati itu benar-benar ada.
Tahun pun mulai berlalu begitu cepatnya. Hari yang paling aku takutkan benar-benar datang. Awalnya, aku hanya merasakan gatal tapi lama-lama gatal itu menjadi panas dan kankerku menjadi semakin parah. Aku takut. Bahkan sekarang kankerku menjadi luka. Aku melewati hari-hariku dengan merasakan rasa sakit yang luar biasa setiap harinya. Bahkan teman-temanku merasa kasihan kepadaku. Apakah ini waktunya aku untuk mati? Pernah aku berpikir seperti itu.
Aku tak pernah menyangka, disaat kondisiku yang seperti ini masih ada orang yang benar-benar menyayangiku dengan tulus. Bahkan ia mencoba membantuku untuk bisa sembuh. Dia rela merawatku. Tak peduli seberapa parahnya aku. Laki-laki itu selalu memberiku semangat untuk tetap hidup dan seandainya aku tetap hidup, dia akan memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku benar-benar merasa beruntung. Disaat kondisiku sedang seperti ini dia datang dan selalu datang kepadaku.
Aku selalu  mencoba untuk tetap tersenyum tak peduli seberapa berat aku berjuang. Terkadang hatiku merasa begitu sedih karena orang-orang disekitarku menangis karena apa yang sedang terjadi padaku saat itu. Tapi, meskipun keadaanku seperti ini aku tak ingin larut dalam kesedihan dan menyerah begitu saja. Aku selalu menyempatkan diri untuk terus bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang dan aku tak berhenti untuk selalu berjuang agar tetap hidup. Meskipun terkadang perasaan menyerah pernah menyelimuti benakku. Tapi aku percaya aku bisa. Aku bisa sembuh.
Hari demi hari aku lalui dan tak lupa selalu aku obati sakitku ini. Dengan bantuannya, orang yang aku sayangi, perlahan kankerku semakin membaik. Disitulah semangatku semakin berkobar. Aku percaya aku bisa menggapai mimpi-mimpiku. Meskipun terkadang ada rasa sesak di dalam dada yang masih menghalangi impianku itu.
Hari berlalu begitu cepat aku tak menyangka kalau perjuanganku selama ini tak pernah sia-sia. Aku lulus sebagai lulusan terbaik dan yang paling membuatku bahagia adalah aku sembuh dari kankerku. Disaat itu juga aku merasa bahwa aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Aku mendapatkan predikat lulusan terbaik, aku juga dapat sembuh dari penyakitku dan aku juga dapat bonus tambahan, yakni mendapatkan pria yang benar-benar sayang denganku apa adanya.
Terimakasih Tuhan...karena Kau selalu mendengar dan tak pernah berhenti untuk terus mendengarkan doaku. Terimakasih karena Kau telah mengabulkan doaku. Aku bersyukur dengan adanya jalan hidupku yang seperti itu. Karena apabila aku tak merasakannya, mungkin sekarang aku tak pernah mengerti bagaimana caranya bersyukur dan  bagaimana pentingnya bersyukur untuk hidup. Karena rasa syukur itu akan selalu membuat hidup menjadi lebih baik. Sekali lagi, terimakasih atas jalan hidup yang Kau berikan kepadaku ini.

"Mungkin saat kalian belum pernah merasakannya, kalian tak tahu bagaimana pentingnya bertahan ntuk sebuah nyawa kalian sendiri"
(Cerita ini terinspirasi dari seorang mantan penderita kanker agar kita senantiasa selalu menghargai rasa syukur dan percaya bahwa keajaiban doa itu ada.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar